Kamis, 26 April 2018

Basic Laboratory Skill ( Pelaksanaan )

Basic Laboratory Skill ( Pelaksanaan )
Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka. Laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud : 1995, 2003).
Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar di mana siswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan dapat membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.
A. Keterampilan dasar saat praktikum:
a)      Menggunakan kelengkapan yang wajib dalam praktikum (seperti jas lab, masker, sarung tangan, sepatu ket, dan sebagainya)
b)      Dapat menggunakan alat-alat praktikum yang dilakukan
c)      Dapat mensterilkan atau mengkalibrasi alat-alat dalam laboratorium
d)     Dapat mengenali jenis-jenis zat yang digunakan saat melakukan praktikum
e)      Dapat melakukan praktikum sesuai prosedur yang ada
f)       Dapat menyimpulkan hasil dari praktikum.

B. Keterampilan saat bekerja

1. Sterilisasi Medium Dan Alat-Alat

Kita semua dapat memaklumi, andaikata medium dan alat-alat yang kita pergunakan dalam inokulasi itu tidak steril, niscayalah kita tidak akan mungkin memperoleh piaraan bakteri yang kita inginkan. Maka langkah-langkah pertama yang harus kita ambil sebelum kita mengadakan inokulasi ialah mengusahakan sterilnya medium serta alat-alat perlengkapannya. Lagi pula, kita harus menguasai teknik inokulasi.

Beberapa Cara Untuk Mensterilkan Medium
a. Dalam aba 18 orang mensterilkan medium cukup dengan mendidihkan medium tersebut selama beberapa jam. Dengan jalan ini maka matilah semua benih kehidupan. Cara yang demikian ini dilakukan oleh Spailanzani (1729 – 1799) untuk membuktikan tidak mungkinnya abiogenesis.

b. Tyndallisasi. Metode ini berupa mendidihkan medium dengan uap untuk beberapa menit saja. Sehabis didiamkan satu hari – selama itu spora-spora sempat tumbuh menjadi bakteri vegetatif – maka medium tersebut dididihkan lagi selama beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga, medium tersebut dididihkan sekali lagi. Dengan jalan demikian ini diperolehlah medium yang steril, dan lagi pula, zat-zat organik yang terkandung di dalamnya tidak mengalami banyak perubahan seperti halnya pada (a).

c. Dengan autoklaf, yaitu alat serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap. Medium yang akan disterilkan ditempatkan di dalam autoklaf ini selama 15 sampai 20 menit; hal ini bergantung kepada banyak sedikitnya barang yang perlu disterilkan. Medium yang akan disterilkan itu lebih baik ditempatkan dalam beberapa botol yang agak kecil daripada dikumpul dalam satu botol yang agak kecil daripada dikumpul dalam satu botol yang besar. Setelah pintu autoklaf ditutup rapat, barulah kran pada pipa uap dibuka, dan temperatur akan terus menerus naik sampai 121o C. Biasanya autoklaf sudah diatur demikian rupa, sehingga pada suhu tersebut, tekanan ada sebesar 15 lbs (pounds) per inch persegi yang berarti 1 atmosfer per 1 cm2. Perhitungan waktu 15 atau 20 menit itu dimulai semenjak termometer pada autoklaf menunjuk 121oC. Setelah cukup waktu, maka kran uap ditutup, dan dengan demikian akan kita saksikan, bahwa suhu mulai turun sedikit demi sedikit, demikian pula manometer. Autoklaf tidak boleh dibuka sekonyong-konyong. Jika diperbuat demikian, maka isi botol yang ada di dalam autoklaf akan meluap ke mana-mana. Baiklah kita menunggu sampai manometer menunjukkan 0, barulah autoklaf kita buka. Pendinginan dilakukan sedikit demi sedikit. Jika medium mengandung vitamin, gelatin atau bangsa gula, maka setelah sterilisasi sependek-pendeknya dalam autoklaf, medium tersebut haruslah segera didinginkan sesudahnya dikeluarkan dari autoklaf. Perbuatan ini perlu untuk menghindarkan terurainya zat-zat tersebut. Medium yang sudah steril dapat disimpan dalam almari es.

d. Dengan penyaringan (filtrasi). Medium disaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom. Dengan jalan ini, maka zat-zat organik tidak akan mengalami penguraian sama sekali. Hanya sayang, virus tak dapat terpisah dengan penyaringan, medium masih perlu dipanasi dalam autoklaf, meskipun tidak selama 15 menit dengan temperatur 121oC. Penyaringan dapat dilakukan juga dengan saringan yang dibuat dari asbes. Saringan ini lebih murah dan lebih mudah penggunaannya daripada saringan porselin. Saringan asbes dapat dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselin terlalu mahal untuk dibuang, dan terlalu sulit untuk dibersihkan.

2.    Pensterilan Gelas-Gelas

Gelas, botol, pipa, pipet yang sudah bersih tidak disterilkan di dalam autoklaf, karena barang-barang tersebut akan tetap basah sehabis sterilisasi. Alat-alat dari gelas dimasukkan di dalam oven kering selama 2 – 3 jam pada temperatur 160o – 170o C; hal ini bergantung kepada banyak sedikitnya muatan yang dimasukkan dalam oven. Kapas masih dapat bertahan dalam oven kering selama waktu dan pada temperatur seperti tersebut di atas. Alat-alat yang belum bersih dan belum kering tidak boleh dimasukkan dalam oven kering.
Pensterilan alat-alat dapat pula dilakukan dengan gas etilen oksida. Hal ini harus dikerjakan dengan hati-hati, karena ada bahaya letusan.

3.      Penyediaan atau Penyiapan Bahan
Setiap akan mengambil bahan kimia, baca terlebih dahulu labelnya dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan. Pegang botol dengan baik, yaitu dengan label yang melekat pada botol ada di bawah telapak tangan. Dengan cara ini tidak akan ada bahan yang menetes atau menempel pada label sehingga label tetap utuh.
4.             Cara membaca volume pada gelas ukur

Masukkan cairan yang akan diukur lalu tepatkan dengan pipet tetes sampai skala yang diinginkan. Bagian terpenting dalam membaca skala di gelas ukur tersebut adalah garis singgung skala harus sesuai dengan meniskus cairan. Meniskus adalah garis lengkung permukaan cairan yang disebabkan adanya gaya kohesi atau adhesi zat cair dengan gelas ukur.

5.        Cara menggunakan buret

Sebelum digunakan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan digunakan. Cara mengisinya :
Ø  Kran ditutup kemudian larutan dimasukkan dari bagian atas menggunakan corong gelas.
Ø  Jangan mengisi buret dengan posisi bagian atasnya lebih tinggi dari mata kita. Turunkan buret dan statifnya ke lantai agar jika ada larutan yang tumpah dari corong tidak terpercik ke mata.
Ø  Jangan sampai ada gelembung yang tertinggal di bagian bawah buret. Jika sudah tidak ada gelembung, tutup kran.
Ø  Selanjutnya isi buret hingga melebihi skala nol, lalu buka kran sedikit untuk mengatur cairan agar tepat pada skala nol.


6.        Cara menggunakan neraca analitis

  Ø       Nolkan terlebih dulu neraca tersebut
  Ø       Letakkan zat yang akan ditimbang pada bagian timbangan
  Ø       Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca
  Ø       Setelah digunakan, nolkan kembali neraca tersebut
  Ø      Cara menghirup bau zat
Yang perlu diingat jangan pernah menghirup gas atau uap senyawa secara langsung! Gunakan tangan dengan mengibaskan bau sedikit sampel gas ke hidung (Ruhiyat, 2010).


7.        Cara Mengambil dan Menuangkan Bahan Padat







Ø  Pegang botol bahan dengan label di bawah telapak tangan.
Ø  Miringkan botol sehingga sedikit bahan masuk ke dalam tutup botol, kemudian keluarkan tutup botol dengan hatihati.
Ø  Ketuk-ketuk tutup botol dengan telunjuk atau batang pengaduk sehingga bahan pada tutup jatuh pada tempat yang diinginkan.

8.    Cara Mengambil dan Menuangkan Bahan Cair

 



Ø Baca label bahan pada botol dengan teliti.
Ø Pegang botol sedemikian rupa sehingga label botol terletak pada telapak tangan agar tidak terjadi penetesan bahan ke label.
Ø Basahi tutup botol dengan bahan di dalam botol dengan cara botol dimiringkan untuk memudahkan melepas tutup botol
Ø Jika akan menuangkan, buka botol dan jepit tutup botol diantara jari.
Ø Tuangkan bahan cair dengan bantuan batang pengaduk
9.         Memanaskan


Proses pemanasan dan penguapan bahan memerlukan ketrampilan khusus untuk keselamatan bekerja. Pengetahuan bahan kimia sangat diperlukan, misalnya jangan sekali-kali memanaskan atau menguapkan bahan yang mudah terbakar di atas nyala api langsung. Gunakan penangas air atau penangas uap. Untuk memanaskan bahan cair di dalam tabung reaksi, lakukan seperti berikut.
Ø Nyalakan bunsen atau pemanas lain dengan baik.
Ø Jepit tabung reaksi berisi cairan yang akan dibakar dengan penjepit.
Ø Panaskan tabung reaksi di atas nyala api. Hadapkan tabung ke arah yang berlawanan dengan muka kita. Pemanasan dimulai dari bagian permukaan cairan bukan dari dasar tabung. Jangan lupa menggerakkan tabung reaksi selama pemanasan agar pemanasan tidak berlangsung hanya pada satu bagian saja.
Ø Untuk memanaskan bahan cair yang cukup banyak, lakukan dengan menempatkan bahan cair tersebut dalam gelas beaker dan dipanaskan di atas pemanas bunsen.



            Dari uraian di atas terdapat beberapa pertanyaan !
1. Menurut teman-teman bagaimana cara untuk membekali skill lab yang baik kepada siswa?
2. Dari uraian di atas di jelaskan tentang cara Sterilisasi Medium Dan Alat-Alat, yang mau saya tanyakan kapan dilakukan pengsterilisasi medium dan alat-alat lab tersebut apakah sebelum praktikum dimulai atau setelah praktikum ?








Rabu, 18 April 2018

PEMUSNAHAN ALAT LABORATORIUM IPA TIDAK TERPAKAI

PEMUSNAHAN ALAT LABORATORIUM IPA
TIDAK TERPAKAI

Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air, tanah dan air mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.

Peralatan laboratorium dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
1.     Peralatan consumable adalah peralatan laboratorium yang digunakan sekali pakai rusak atau dibuang atau dapat juga sekali pakai pecah atau mudah pecah. Yang termasuk peralatan ini adalah alat gelas, pipa gelas, pipa karet, kertas saring, kertas kromatografi, dll.
2.   Peralatan non-consumable adalah peralatan laboratorium yang dapat digunakan terus-menerus dan bukan sekali pakai. Yang termasuk peralatan ini adalah pembakar gas, mikroskop, peralatan elektronik, dll. Sebaiknya mikroskop dan peralatan elektronik disimpan terpisah.

Kertiasa (2006) mengelompokkan peralatan yang ada di laboratorium biologi sebagai berikut:
1.         Alat-alat optik, seperti mikroskop cahaya, mikroskop stereo, mikroskop elektron
2.     Alat-alat dan wadah dari kaca (kaca objek, cover glass, cawan petri, gelas beker, pipet tetes, tabung reaksi) dari porselen atau dari plastik yang tidak mudah terkorosi
3.      Alat-alat bantu seperti penjepit, sumbat karet, sumbat gabus, pelubang gabus, spatula, sikat tabung reaksi dan sikat buret serta corong,
4.         Alat-alat bedah dan pengerat seperti jarum, panci bedah, gunting, pinset, pisau,
5.         Alat peraga dan model seperti kerangka, torso, kotak genetika dan carta,
6.         Alat-alat ukur seperti neraca, termometer, hygrometer, stop watch, dan respirometer,
7.         Alat-alat penopang/penumpu seperti statif dan alasnya, kaki tiga, kasa, rak tabung reaksi,
8.         Alat pemanas, seperti pembakar spiritus
9.         Alat-alat untuk kegiatan lapangan seperti kuadrat, jala plankton

Alat yang telah rusak dan tidak dapat dipakai lagi di data kemudian dipisahkan alat gelas dan alat non gelas. Alat non gelas di dimusnahkan dengan cara dibakar. Alat gelas dimusnahkan dengan cara ditimbun atau dikubur di dalam tanah.

Adapun Cara Untuk memusnahkan dan membuang alat dari pratikum yang tidak terpakai lagi yaitu :

1.      Termometer  
Termometer yang telah digunakan dalam pratikum masih bisa digunakan untuk pratikum selanjutnya, oleh karena itu thermometer tidak di buang/ dimusnahkan tetapi di simpan pada tempat penyimpanannya.akan tetapi jika thermometer yang digunakan pecah, maka sebaiknya kita data terlebih dahulu thermometer yang pecah tersebut dan kemudian kita kumpulkan pecahan thermometer lalu kita buang ketempat sampah yang berisi pecahan kaca., yaitu tempat sampah yang bewarna merah yang berisi bahan-bahan yang berbahaya dan beracun.

2.      Pembakar bunsen/pembakar spiritus
Bunsen juga masih bisa digunakan untuk pratikum selanjutnya, akan tetapi spritus yang terdapat didalamnya bisa di buang/ dimusnahkan langsung kelapangan terbuka.

3.      Kaki tiga
Kaki tiga jika digunakan dalam pratikum masih bisa digunakan untuk pratikum selanjutnya, oleh karena itu kaki tiga tidak di buang/ dimusnahkan tetapi di simpan pada tempat penyimpanannya.

4.      Stopwatch
Stopwatch yang digunakan dalam pratikum masih bisa digunakan untuk pratikum selanjutnya, oleh karena itu Stopwatch tidak di buang/ dimusnahkan tetapi di simpan pada tempat penyimpanannya, Tetapi jika sudah rusak di buang ketempat sampah yang telah disediakan, yang terdiri dari logan-logam

5.     Es batu secukupnya
Es batu yang telah digunakan dalam pratikum tidak bisa digunakan lagi untuk pratikum selanjutnya, dan dapat kita buang sisa dari es batu tersebut terlebih dahulu biarkan es batu tersebut mencair didalam tempatnya, selanjutnya baru bisa langsung di buang keruang terbuka.

6.     Neraca/Timbangan
Timbangan yang telah digunakan dalam pratikum masih  bisa digunakan lagi untuk pratikum selanjutnya, dan jika rusak kita dapat kita buang langsung ketempat sampah.

7.      Gelas Kimia
Gelas kimia yang telah digunakan dalam pratikum masih bisa digunakan untuk pratikum selanjutnya, oleh karena itu gelas kimia tidak di buang/ dimusnahkan tetapi di simpan pada tempat penyimpanannya.akan tetapi jika gelas kimia yang digunakan pecah, maka sebaiknya kita data terlebih dahulu gelas kimia yang pecah tersebut dan kemudian kita kumpulkan pecahan gelas kimia lalu kita buang ditempat sampah yang berisi pecahan kaca.

8.      Kasa
Kasa  yang telah digunakan dalam pratikum bisa langsung kita musnahkan dengan cara membakar kasa tersebut

9.      Korek api
Korek api yang telah digunakan dalam pratikum tidak bisa digunakan lagi untuk pratikum selanjutnya, dan dapat kita buang sisa dari korek api tersebut dengan membuang ketempat sampah.

Secara umum dalam pembuangan limbah terdapat beberapa metoda, metoda pembuangan limbah laboratorium tersebut terbagi atas empat metoda. Metoda-metoda tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Pembuangan langsung dari laboratorium.
Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.

2.      Dengan pembakaran terbuka.
Metoda pembakaran terbuka dapat diterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.

3.      Pembakaran dalan insenerator.
Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.

4.      Dikubur didalam tanah.
Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.

Alur Pengolahan Limbah B3


proses pengolahan limbah modern


Dari uraian diatas timbul beberapa pertanyaan.
1.   Apakah dalam pemusnahan limbah berupa alat laboratorium, juga menggunakan SOP, kalau iya berikan contoh SOP nya ?
2.      Bagaimana bentuk administrasi yang digunakan dalam pemusnahan alat laboratorium?
3.      Siapa yang bertanggung jawab dalam proses pemusnahan limbah alat laboratorium?

Senin, 02 April 2018

Managemen Functions in Laboratory

FUNGSI MANAJEMEN LABORATORIUM

Laboratorium adalah bagian integral dari bidang akademik (bukan bagian dari rumah tangga atau administrasi), maka manajemen laboratorium perlu direncanakan seiring dengan perencanaan akademik (program dan anggarannya). Peranan laboratorium sangat besar dalam menentukan mutu pendidikan karena laboratoriumlah yang menghasilkan karya-karya ilmiah yang membanggakan, yang tak dapat dihasilkan oleh institusi lainnya. Sehingga bagi perguruan tinngi yang bermutu, laboratorium menjadi bagian yang dikedepankan.
Manual Prosedur Pengelolaan Laboratorium adalah serangkaian tindakan yang harus dilakukan oleh pengelola laboratorium agar penjaminan mutu laboratorium bisa dilaksanakan dengan baik. Tindakan-tindakan tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan penyempurnaan laboratorium.  
   
A.    Manajemen Dasar
Secara umum manajemen sering didefinisikan sebagai, “Getting things done through other people – menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain”. Telah disebutkan berkali-kali bahwa supervisor merupakan manajer lini terdepan yang melaksanakan pekerjaan manajemen untuk merencanakan, mengorganisir, mengeksekusi rencana, serta mengendalikan dan mengontrol proses pekerjaan menuju hasil yang diharapkan.
Oleh karena itu supervisor wajib bekerja secara :
1. Efektif, melakukan sesuatu dengan membawa hasil.
2. Efisien, melakukan sesuatu dengan hemat sumber daya.
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  
                                                                               
                 B.  Fungsi - Fungsi Manajemen
Seperti yang kita ketahui bahwa manajemen itu untuk mengelola. Mengelola suatu persoalan yang sebelumnya belum tersusun rapi atau teratur. Manajemen dapat dipakai di kehidupan sehari-hari.
Orang jika sudah biasa membentuk manajemen, maka tidak akan merasa nyaman bila ada yang terlihat berantakan di sekitarnya. Mengapa demikian? Karena, manajemen untuk memudahkan Anda dalam mengatur banyak hal, misalnya pekerjaan.
Pada umumnya terdapat beberapa fungsi yang dapat diimplementasikan dalam manajemen, yaitu:
1. Perencanaan (planning)
Salah satu dari fungsi manajemen yaitu perencanaan atau planning yang merupakan kegiatan untuk membuat tujuan dari sebuah perusahaan dengan beberapa rencana untuk mendapatkan tujuan.
Perencanaan adalah cara terbaik untuk mengejar dan membuat tujuan perusahaan agar mampu teraih dengan baik. Karena memang tanpa adanya perencanaan fungsi manajemen tak dapat berjalan.
Tugas dari perencanaan antara lain :
1) Membuat target.
2) Membuat rencana kegiatan yang dibutuhkan untuk pencapaian target.
3) Mengatur urutan pelaksanaan.
4) Menyusun anggaran biaya.
5) Membuat SOP mengenai pelaksanaan pekerjaan.
           2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian adalah membagi kegiatan besar menjadi kegiatan kecil. Caranya  dengan membagi setiap tugas supaya bisa secara mudah meraih tujuan dari sebuah perusahaan. Kegiatan menghubungkan serta mengatur pekerjaan dapat dilaksanakan dengan secara efisien dan efektif dengan cara sebagai berikut:
1) Desain struktur organisasi.
2) Tentukan job description setiap jabatan untuk meraih sasaran organisasi.
3) Mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang, menetapkan tanggung jawab dari hasil yang sudah dicapai.
4) Membedakan antara atasan dan staff.
             3. Pengarahan (directing)
Pengarahan adalah tindakan dan upaya supaya semua anggota kelompok bisa berusaha untuk mendapatkan tujuan yang telah sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.
Proses implementasi sebuah program supaya mampu dilakukan oleh seluruh pihak dalam organisasi tersebut. Selain itu juga dapat memotivasi seluruh pihak supaya dapat melaksanakan tanggung jawab dan penuh kesadaran.
Fungsi pengarahan dan implementasi mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Mengimplementasikan sebuah proses pembimbingan, kepemimpinan, dan pemberian motivasi bagi tenaga kerja.
2) Memberikan tugas yang teratur mengenai pekerjaan.
3) Menjelaskan kebijakan yang sudah ditetapkan.
            4. Penempatan (Staffing)
Penempatan tak jauh beda dengan pengorganisasian tetapi untuk staffing lebih luas. Jika organizing lebih ke manajemen SDA (Sumber Daya manusia). Nah sedangkan untuk penempatan tertuju pada sumber daya secara umum. Contohnya peralatan yang dimiliki.
5. Mengkoordinasi (Coordinating)
Mengkoordinasi adalah fungsi yang bertujuan demi meningkatkan efisiensi dan efektifitas kinerja, membuat lingkungan kerja menjadi sehat, nyaman, dinamis, dll. Fungsi ini dilakukan oleh seorang manajer. Jadi, manajer mempunyai fungsi utama dalam mengkoordinasi bawahannya agar dapat meningkatkan kinerjanya.
6. Mengontrol (Controlling)
Mengontrol merupakan fungsi terakhir manajemen. Setelah semua fungsi dilakukan maka langkah yang terakhir yaitu mengontrolnya. Dalam fungsi ini ada beberapa elemen penting, misalnya evaluasi serta membuat kebijakan baru.
Fungsi mengontrol cukup penting agar kinerja orang-orang tidak menurun, paling tidak masih dalam batas standard, dan bagusnya adalah dapat meningkat.
Unsur-Unsur Manajemen
Ada beberapa unsur-unsur manajemen yang perlu Anda ketahui yaitu:
           1. Human (Manusia)
Sarana utama setiap manajer adalah mencapai tujuan yang sudah ditentukan oleh manusia terlebih dahulu. Tanpa ada manusia, seorang manajer tidak akan dapat mencapai tujuannya.
2. Money (Uang)
Untuk melakukan berbagai kegiatan perusahaan diperlukan adanya uang. Uang digunakan untuk membayar gaji karyawan, membeli peralatan dan bahan-bahan. Nah, paling penting adalah Anda harus mampu menggunakannya secara efektif supaya tujuan tercapai dengan menggunakan biaya yang rendah.
3. Materials (Bahan)
Material adalah faktor pendukung utama di dalam proses produksi. Material juga mempengaruhi kelancaran proses produksi. Apabila tidak ada bahan, maka proses produksi tidak bisa berjalan. Bahan-bahan yang diperlukan misalnya adalah bahan baku dan juga bahan pembantu untuk menunjang proses produksi.
4. Machines (Mesin)
Saat ini teknologi sudah maju, sehingga perusahaan-perusahaan dapat menggunakan mesin-mesin yang canggih dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan.
5. Methods (Metode)
Untuk melakukan kegiatan supaya berdaya guna serta berhasil guna, Anda dihadapkan pada pilihan berbagai alternatif metode untuk melakukan pekerjaan. Oleh karena itu, pilihlah metode yang benar guna mencapai tujuan.
6.  Market (Pasar)
Pasar juga merupakan sarana yang penting dalam manajemen. Tanpa adanya pasar, hasil produksi Anda tidak ada artinya.

       C. Pengelolaan Laboratorium Bermutu
Pengelola laboratorium terdiri dari : (1) kepala laboratorium, (2) teknisi, (3) laboran, dan (4) petugas kebersihan. Rincian syarat, tanggung jawab, dan wewenang masing-masing pengelola laboratorium diuraikan di bawah ini.
Prosedur pengelolaan laboratorium adalah langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pengelola laboratorium agar laboratorium yang dikelolanya bermutu. Langkah-langkah tersebut meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan penyempurnaan (P4). Pada tahap perencanaan, pengelola laboratorium harus melakukan hal-hal di bawah ini:

Usaha Dalam Pengelolaan Laboratorium
           Pengelolaan laboratorium adalah kegiatan menggerakkan sekelompok orang (sdm),keuangan, peralatan, fasilitas dan atau segala obyek fisik lainnya secara efektif dan efisienuntuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu yang di harapkan secara optimal.Pengelolaan laboratorium secara umum meliputi aspek:
Perencanaan yaitu proses pemikiran yang sistematis, analitis, logis tentang kegiatan yang harus dilakukan, langkah-langkah, metode, sdm, tenaga, dan dana yang dibutuhkanuntuk mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien.
Ø  Penataan alat dan bahan yaitu proses pengaturan alat / bahan di laboratorium agar tertata dengan baik.
Ø Pengadministrasian laboratorium yaitu suatu proses pencatatan atau inventarisasifasilitas dan aktifitas laboratorium.Dengan pengadministrasian yang tepat semua fasilitasdan aktifitas laboratorium dapat terorganisir dengan sistematis.
Ø     Pengamanan,perawatan dan pengawasan.

Setiap penggunaan laboratorium baik untuk praktikum maupun penelitian harus menyerahkan terlebih dahulu jadwal penggunaannya sehingga tidak terjadi tumpang tindih jadwal penggunaan laboratorium. Selain itu pengguna laboratorium harus memakai peralatan laboratorium seperti jas, masker dan sarung tangan (jika diperlukan) dan mengikuti prosedur peminjaman alat dan permintaan bahan yang berlaku di laboratorium.
Fungsi Laboratorium             
            Secara umum fungsi semua laboratorium  adalah antara lain :
Ø  Sebagai tempat dilakukannya percobaan Alat-alat laboratorium dan bahan-bahan praktikum tidak mungkin semuanya diletakkan dalam kelas, oleh karena itu percobaan dilakukan di dalam laboratorium.
Ø  Sebagai tempat penunjang kegiatan kelas Dengan adanya kegiatan pembalajaran di laboratorium, mahasiswa dapat mengamati gejala-gejala yang terjadi dalam percobaan secara langsung dan tidak hanya belajar menurut teori-teori yang ada.
Ø  Sebagai tempat display / pameran Laboratorium juga dapat digunakan sebagai tempat pameran atau display dari hasil-hasil percobaan atau penelitian yang telah dilakukan, agar memberi gambaran lebih bagi mahasiswa dan dapat memotivasi untuk penelitian atau percobaan yang lebih baik.
Ø  Sebagai tempat koleksi sejumlah species langka Dengan adanya koleksi sejumlah species memudahkan mahasiswa mengamati secara langsung spesies yang mungkin sulit untuk menemukannya.
Ø  Sebagai museum kecil Hasil-hasil  penelitian dan sejumlah species langka di kumpulkan dan diklasifikasikan, sehingga laboratorium dapat digunakan sebagai museum kecil.
Adapun tujuan proses pembelajaran di laboratorium bagi siswa maupun mahaiswa/mahasiswi yaitu :
Ø  Teliti dalam pengamatan dan cermat dalam pencatatan pada saat pengamatan
Ø  Mampu menafsirkan hasil percobaan untuk memperoleh penemuan dan dapat memecahkan masalah
Ø  Mampu merencanakan dan melaksanakan percobaan
Ø  Terampil menggunakan alat-alat lab
Ø  Tumbuh sikap positif terhadap kegiatan praktikum
Di samping itu ada beberapa ruangan lain yang merupakan bagian dari laboratorium yaitu:
1.     Ruang persiapan
2.    Ruang penyimpanan (gudang)
3.     Ruang gelap
4.    Ruang timbang
5.    Kebun dan rumah kaca
Manajemen Laboratorium (Laboratory Management), usaha untuk mengelola laboratorium berdasar konsep manajemen baku. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik apabila didukung oleh beberapa faktor yaitu:
a)Peralatan laboratorium yang canggih,
b) Staf yang profesional, dan
c)Manajemen yang baik.
          Agar semua kegiatan yang dilakukan di laboratorium berjalan dengan lancar, maka dibutuhkan sistem pengelolaan laboratorium yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
Untuk mengelola laboratorium, terlebih dahulu dikenal perangkat-perangkat yang akan dikelola adalah :
1. Tata Ruang
Ø  Laboratorium sebaiknya ditata sedemikian rupa sehinggfa dapat berfungsi dengan baik, tata ruang yang sempurna mestinya dimulai sejak perencanaan sebuah gedung laboratorium.
Ø  Tata ruang yang baik harus mempunyai: pintu masuk, pintu keluar, pintu emergency, Ruang persiapan, ruang peralatan, ruang penyimpanan, ruang staf, ruang tekhnisi, ruangseminar, ruang bekerja, ruang istirahat/ibadah, ruang prakarsa kebersihan, ruangperalatan keselamatan kerja, Lemari praktikan, Lemari gelas, Lemari alat-alat optik, Pintu jendela dengan kawat kasa, ruang AC/Fan, untuk alat-alat  tertentu yang memerlukan persyaratan tertentu.
2. Alat yang terkalibrasi
Setiap alat yang akan dioperasikan harus benar-benar dalam kondisi: Siap untuk dipakai, bersih, terkalibrasi, tidak rusak, dan dapat beroperasi dengan baik.
3. Administrasi Laboratorium
Adm. Laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada dilaboratorium, yang terdiri dari:
Ø  Inventarisasi alat-alat Laboratorium yang ada
Ø  Daftar kebutuhan alat baru, alat tambahan,  alat rusak, alat dipinjam/ dikembalikan
Ø  Keluar masuk surat menyurat
Ø  Daftar pemakaian laboratorium untuk prak/penelitian
Ø  Daftar inventarisasi bahan-bahan kimia/non kimia
Ø  Daftar inventarisasi alat-alat meubelair (meja, kursi, bangku, lemari dsb)
Ø  Sistem evaluasi dan pelaporan

4. Organisasi Laboratorium
Ø  Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi, deskripsi pekerjaan, serta susunan personalia yang mengelola laboratorium tsb.
Ø  Penanggung jawab tertinggi organisasi di dalam laboratorium adalah Kepala Laboratorium.
Ø  Kalaboratorium bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan pada semua peralatan yang ada, sementara laboratorium yang berada dibawah kalaboratorium harus sepenuhnya btanggung jawab pada semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
Ø  Untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan peralatan, keberadaan tenaga teknisi tetapsangat diperlukan.

5. Keselamatan Laboratorium
a.       tanggung jawab, Kalaboratorium, laboran, termasuk asistan  bertanngung jawab penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul
b.      kerapian, semua koridor, jalan keluar, alat pemadam api, harus bebas dari hambatan, lantai bebas dari minyak, air & material lain, semua alat-alat dikembalikan ketempatnyasemula setelah digunakan.
c.        kebersihan masing-masing pekerja di Laboratorium
d.      Pertolongan pertama, semua kecelakaan bagaimanapun ringanx ditangani di tempat tertentu. Setaip laboratorium harus memiliki kotak PPPK
e.       Pakaian, Saat bekerja dilaboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka, kalung teruntai, rambut harus dilindungi dari mesin-mesin yang bergerak.
f.       Berlari di Laboratorium, tidak dibenarkan berlari di laboratorium atau koridor, untuk menghindari tabrakan dengan orang lain.
g.      Pintu, pintu Laboratorium harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
h.      Alat, alat seharusnya ditempatkan ditengah meja agar tidak jatuh dilantai, selain itu alat jg ditempatkan dekat dengan sumber listrik sebagai sumber tenaganya, demikian jugaalat-alat yang memerlukan air harus didekatkan dengan sumber  air.
6. Disiplin yang tinggi
Ø  Disiplin yang tinggi dari laboratorium ataupun tenaga terampil yang ada, akan mendukung terwujudnya efisiensi kerja yang tinggi.
Ø  Kedisiplinan sangat dipengarhi oleh pola kebiasaan & perilaku dari manusianya sendiri.
Ø  Oleh karenanya seorang pekerja Laboratorium harus menyadari akan tugas, wewenang dan fungsinya.
Ø  Sesama laboratorium ada kerjasama yang baik, sehingga setiap kesulitan dapat diselesaikan bersama.
        7. Keterampilan
       Ø  Keterampilan para tenaga laboratorium harus selalu ditingkatkan kualitasnya, hal ini dapat diperoleh melalui pendidikan tambahan, penataran, atau magang.

Dari uraian di atas timbul beberapa pertanyaan !
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja manejemen laboratorium?
2. Kenapa di perlukan SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam manjemen laboratorium? Apabila tidak ada SOP apakah manejemen laboratorium bisa berjalan dengan baik ?
3. Mengapa pentingnya manajemen lab dalam kaitannya dengan kurikulum 2013!